Terjebak di Lamno

Posted in Tips Travelling
at 2014.08.24
Saat kami sedang santai – santainya menatap pemandangan yang super indah tiba – tiba motor yang kami kendarai gasnya tersangkut saat Bang Hafiz mengoper gigi ke belakang. Aku yang juga merasakan gasnya tersangkut langsung ku tanyakan dengan Bang Hafiz,

“Kenapa, Bang?” tanyaku.

“Ntah, Abang juga ngak tau, tiba – tiba saja gasnya tersangkut,” jelas bang Hafiz.

“Coba kita berhenti aja dulu, Bang!” saranku.

Motor pun dihentikan dan apa yang terjadi? Motor tak mau hidup lagi. Kulihat jam ku sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. “Bagaimana ini? Banda Aceh masih sangat – sangat jauh”, “sepertinya aku terjebak di lamno ini,” aku bertanya dalam hati yang mulai susah.
Kami tak tau harus mencari bengkel di mana, ada baiknya kalau bertanya kepada warga sekitar, seperti kata pepatah “malu bertanya sesat di jalan”.
“Assalamulaikum, Bang! Di mana bengkel terdekat ya, Bang?” tanya Bang Hafiz kepada warga.
“Walaikumsalam, kalian dari mana? tinggal di mana? kuliah dimana?” warga itu sepertinya mencurigai kami.
“Kami dari kampung mau ke Banda Aceh, Bang. Saya kuliah di UIN, Bang.” jelas Bang Hafiz.
“Bengkel ada di belakang, sebelum gunung itu,” jelasnya.
“Ok Bang, terima kasih ya.”
Setelah tau bengkel di mana aku langsung segera mendorong motor ke bengkel. Bengkelnya tak jauh dari tempat kami berhenti kira – kira ada 100 meter. Kami di sambut dengan ramah dengan orang yang duduk di bengkel itu, mungkin karena penasaran dengan kami mereka bertanya,
“Pakon honda awak dron, Dek?” tanya salah seorang warga.
“Hom buk, tiba – tiba gas jih meusangkot abeh nyan mate..” jelasku.
“Nyang po bengkel hana, Dek. Nyang na awak tempe ban, kadang siat trek ka di balek,” jelas istri pemilik bengkel.
HELP ME!!!
Kami lihat orang yang lalu lalang di jalan sambil menunggu sang pemilik bengkel. Dan setelah setengah jam menunggu akhirnya ia datang juga. Istrinya menjelaskan semuanya kepada ia, tanpa pikir panjang ia langsung mengecek apa yang rusak dari motor kami, mulai dari busi, sdi, oli, dan klep, yang ia temukan tidak ada lagi oli di dalam mesin hingga menyebabkan mesin tak bisa jalan.
Sang penyelamat kami 😀

Karena bengkel ia hanya bengkel kecil jadi tak semua bahan ada, ia menyuruh anak buahnya untuk membeli oli di kota lamno, sambil menunggu oli datang ia memberi tau sesuatu kepada kami,

“Pakriban di jak honda? me oli hana lam meusen..” jelasnya.
“Nyan keuh nyan Bang, watee lon woe gampong na loen ganto oli, tapi wate loen balek hana bang,” jawabku.
“Patot keuh, jih harus ta ganto woe ngon balek..”

Dari kejadian ini aku mengambil pelajarannya, harus service dan ganti oli saat pulang dan balek. Tak lama menunggu oli akhirnya sampai. Abang itu langsung mengisi dan mencoba menghidupkan motor kami, tapi motor tak kunjung hidup.

Para penyelamat kami

Pada akhirnya ia menemukan kejanggalan pada ring piston motor kami, ya, ring piston sudah bocor dan piston sudah terkikis oleh mesin. Tapi ia tidak mempunyai piston dan ring baru di bengkelnya dan bengkel lain sepertinya sudah pada tutup semua, kemudian ia mencoba memperbaiki motor itu supaya bisa hidup dan bisa menghantarkan kami untuk pulang saja. Hari pun makin gelap saja, sepertinya hujan akan turun.

Langit tak mendukung
Langit ingin menangis

Mereka terus berusaha memperbaiki motor kami. Langit hujan dan lampu mati membuat pekerjaan mereka menjadi lambat karena mata abang itu sudah tidak jelas lagi saat dalam gelap. Hati susah, dompet mulai kering, dan badan kedinginan, benar – benar lengkap penderitaan kami.

Ayo Berjuang bang !!!
Hujan bertambah deras
Mobil – mobil tak menghiraukan kami :(
Berkat kerja keras mereka berdua motor kami akhirnya hidup kembali, walaupun knalpotnya di penuhi dengan asap. ya karena ring dan piston tak di ganti hanya di perbaiki saja. Pukul 21.07 WIB kami berangkat dari lamno menuju ke banda aceh dalam kondisi motor berasap dan hujan deras.
Setelah mengisi bensin dengan penuh, akhirnya kami bertemu dengan kaki gunung Gurutee, saat di gunung gurutee kami di sambut kabut tebal yang sangat mengganggu jarak pandang ku. Dan akhirnya kami melewati gunung Gurutee, “Alhamdullilah” aku menyebut dan menghenbuskan nafas.
Tiba – tiba saat kami hendak sampai di gunung paro hujan yang sangat lebat menyambut kami, rasanya tangan dan muka ku di lembari batu saja. Karena tak sanggup meneruskan perjalanan kami berhenti di salah satu rumah makan kecil.
Kami memesan dua cangkir Capucino panas dan 2 piring nasi. Dengan tubuh yang menggigil kami menikmati hidangan makan malam kami. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB, hujan pun tak kunjung pirang apalagi reda. Kami memutuskan untuk tidur di depan rumah makan itu. Aku tak bisa tidur mungkin karena hatiku susah dan badan kedinginan ya?.
Dan hujan pun berhenti pada jam 06.30 WIB, kami langsung bergegas meninggalkan rumah makan itu. Udara yang dingin di tambah dengan hujan gerimis membuat tubuhku menggigil. Akhirnya kami sampai di kawasan lhoknga dengan sambutan hujan lebat. Ya kami mau tidak mau harus berhenti lagi, kebetulan ada warung kopi kecil di daerah situ.
Kami menunggu hujan sambil menyeruput secangkir kopi. Tak lama kami menunggu hujan pun pirang, tunggu apa lagi? kami langsung bergegas pulang. Setelah dari lhoknga perjalanan kami tak ada kendala lagi hingga kami sampai di rumah masing – masing.

Tips : Selalu cek motor dan dompet saat pulang dan balik ke kampung halaman kamu

Penulis : Naufal Khalish

2 responses to “Terjebak di Lamno”

  1. Omak..sedih kali wak nasib anak rantau ni. Hahahaha… Pengalaman berharga kali ya balik ke Banda Aceh? Syukurlah sampai dengan selamat. 😀

    • iya bang citra sedih kali, penderitaan yang lengkap bg :D. Pas balik ke banda ini memang pengalaman yang paling berharga, alhamdullilah sampai dengan selamat bg 😀 . Abg koq udah berhenti jalan2nya? 😀

Leave a Reply