“Menjemput” Pala di Hutan Meukek

Posted in Travelling
at 2014.10.16
Di sepanjang perjalanan tahun 90an, Pala sangat berjaya di Aceh Selatan. Tak heran banyak masyarakat di Aceh Selatan yang “dikayakan” oleh Pala, terutama toke dan yang punya kebun Pala  luas. Saat itu anak-anak seumuran 6 tahun ke atas sudah lihai memetik dan membelah buah pala bahkan sudah lihai memanjat pohonnya.
Penulis yang menghabiskan masa kecil di Aceh Selatan tak luput dari kegiatan memanen Pala. Saat itu setiap keluarga di sana pasti punya pohon Pala. Ya, saat itu masyarakat Aceh Selatan sangat bergantung pada Pala.

Namun, Awal tahun 2000-an. Konflik Aceh memanas, termasuk Aceh Selatan. Tidak ada yang berani lagi ke kebun Pala karena takut tertembak. Maka banyak pohon pala yang tidak terawat lagi. Banyak Pala-Pala yang mati terkena hama. Lalu hilang lah masa keemasan Pala di Aceh Selatan.
***
Akhir Juli 2014 lalu, saat lebaran Idul Fitri saya pulang ke kampung halaman, tepatnya di Meukek, Aceh Selatan. Setelah bersilaturrahmi ke saudara dan famili,  ibu menyuruh saya untuk melihat kebun Pala kami yang sudah lama tak “dijenguk”.
“Sekalian lihat pohon-pohon Pala yang kamu tanam dulu waktu SMP, apa kah sudah besar atau sudah mati” kata ibu. Ya, saya ingat saat SMP, sekitar tahun 2003- 2004 sebelum merantau ke Banda Aceh. Ada beberapa pohon Pala yang saya tanam. Ketika itu Aceh sudah damai, masyakarat Aceh Selatan kembali ke kebun Pala untuk mengganti Pala-Pala yang mati terserang hama.
Di Hari Raya ke- 6,  tepatnya tanggal 2 Agustus 2014 mengajak Abang sepupu saya, Bang Nah dan kawannya, Bang Wandi. Mereka saya ajak karena sudah biasa naik turun gunung menelusuri hutan belantara. Jujur, Saya sudah bertahun-tahun tidak terbiasa lagi, dan mereka masih hafal jalan. Saya juga mengajak adik kandung, Zulfa, dan dua orang adik sepupu, Fajral dan Alpi. Mereka yang tergolong masih kecil belum pernah sekalipun ke kebun pala. “Bawa lah adik-adikmu itu, biar tau dimana kebun dan tahu bagaimana capeknya cari duit,” kata ibu.
Dari rumah, kami berangkat 1 Km dari rumah dengan 2 sepeda motor. Bang Nah membonceng Bang Wandi dan Fajral. Saya membawa Zulfa dan Alpi. Setiba di kaki gunung kami memarkir sepeda motor dan melanjutkan perjalanan dengan kaki.
Banyak sekali perbedaan yang saya rasakan dengan semasa kecil saya dulu. Jalan setapak sudah tertutupi oleh semak belukar. Dengan bantuan parang, kami membuka jalan kembali. Semak belukar, sungai-sungai kecil terus kami lewati, tak ketinggalan tanjakan-tanjakan tinggi. Beberapa kali Fajral dan Alpi beberapa kali harus jatuh bangun. Jalanan sangat licin karena dibasahi oleh embun-embun pagi.
Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit, kami tiba di tempat tujuan. Sangat lelah. Kami beristirahat sejenak. Kemudian mulai memanen pala. Ternyata ada beberapa pohon yang saya tanam dulu yang sudah besar dan bisa dipanen. Dan juga yang gagal alias mati.
Oh ya!! Perjalanan ke kebun Pala kali ini ada yang berbeda. Sewaktu kecil dulu saya selalu membawa parang untuk membela buah Pala. Tapi kali ini ada parang plus kamera.. hehe.. Hal ini sempat dipertanyakan oleh ibu, “Untuk apa? nanti bisa rusak.!” Juga jadi tertawaan Bang Wandi dan Bang Nah, mereka menganggap aneh. Tapi saya tak peduli, karena momen ini sangat sayang untuk dilewatkan. Nah, bagi pembaca silahkan melihat jepretan-jepretan saya di kebun Pala… !!!!
Menyeberangi sungai kecil
Alpi, sempat tersenyum meski lelah
Nampak kampung dari ketinggian,. Duh, jauhnya kami berjalan
Pohon pala yang masih “remaja”
Duh capeknya
Siap ditukarkan dengan uang..hehe

4 responses to ““Menjemput” Pala di Hutan Meukek”

  1. Bagus ya kebonnya, calon uang semua itu ya 😀

  2. Safari Ku says:

    Seru dong ke kebun nenteng kamera…
    Sebentar lagi Hafiz jadi toke pala tu.. Hehhe

Leave a Reply